We have done this before. That is perhaps the most unsettling part: the familiarity of waking up in chains, of feeling something cold and deliberate press itself behind the eyes, of knowing that the tadpole is not merely a passenger. We have walked this road. And yet here we are again, five souls aboard a stolen vessel in a sky that should not exist, bound for somewhere that will ask things of us we have not decided to give.
Kami pernah melakukan ini sebelumnya. Itulah mungkin bagian yang paling menggelisahkan: perasaan sudah kenal saat terbangun dalam belenggu, merasakan sesuatu yang dingin dan disengaja menekan di balik mata, tahu bahwa berudu itu bukan sekadar penumpang. Kami sudah pernah menempuh jalan ini. Tapi begitu kami kembali lagi, lima jiwa di atas kapal yang dicuri di langit yang seharusnya tidak ada, terikat menuju suatu tempat yang akan meminta sesuatu dari kami yang belum kami putuskan untuk diberikan.
Nero was the first to get free. Of course he was. He moved through the dark with that particular confidence of someone who has made shadow into a companion rather than an enemy. The rest of us followed. Sogong said nothing at first, which meant he was already calculating. Anaik assessed the structural integrity of the nearest wall with his fist. Traxex found a window, looked out at the burning sky, and said only: "Again."
Nero yang pertama bebas. Tentu saja. Ia bergerak melalui kegelapan dengan kepercayaan diri khas seseorang yang sudah jadikan bayangan sebagai kawan bukan musuh. Kami yang lain mengikuti. Sogong tidak berkata apa-apa pada awalnya, yang berarti ia sudah menghitung. Anaik menilai integritas struktural dinding terdekat dengan kepalan tangannya. Traxex menemukan jendela, memandang keluar ke langit yang membara, dan hanya berkata: "Lagi."
Nanang said nothing at all. He was present: he moved when we moved, turned when we turned, oriented himself toward whatever required orienting toward. He simply produced no words. Whether this was a choice, an affliction, some state of internal processing that had temporarily suspended the part of him responsible for speech, or whether he was testing something and had decided silence was the correct variable to introduce, no one asked directly. He followed along. We recorded it and moved on.
Nanang tidak berkata apa-apa sama sekali. Ia hadir: ia bergerak ketika kami bergerak, berbalik ketika kami berbalik, hadapkan dirinya ke arah apa pun yang perlu dihadapi. Ia hanya tidak mengeluarkan kata-kata. Apakah ini pilihan, sesuatu yang sedang ia alami, atau ia sedang nguji sesuatu dan memutuskan bahwa diam adalah variabel yang tepat untuk diperkenalkan, tidak ada yang tanya langsung. Ia ikut berjalan. Kami mencatatnya dan melanjutkan.
I. The Githyanki, the Armor, and the Precise Location of Nero's Principles
I. Githyanki, Baju Besi, dan Lokasi Tepat Prinsip-Prinsip Nero
We encountered a Githyanki aboard the vessel and reached, with the pragmatic speed of people who have learned that allies cost less than enemies, a temporary agreement. She would travel with us. She would assist. The arrangement was mutual and professional and lasted approximately until we had finished negotiating it.
Kami bertemu seorang Githyanki di atas kapal dan mencapai, dengan kecepatan pragmatis orang-orang yang sudah belajar bahwa sekutu lebih murah dari musuh, sebuah perjanjian sementara. Ia akan bepergian bersama kami. Ia akan membantu. Pengaturan itu bersifat timbal balik dan profesional, dan berlangsung kira-kira hingga kami selesai menegosiasikannya.
The first thing the party did was take her armor.
Hal pertama yang dilakukan rombongan adalah mengambil baju besinya.
This was Traxex. Traxex looked at the Githyanki, assessed what the Githyanki was wearing, and arrived at the conclusion that the Githyanki no longer needed it. The Githyanki was left standing in considerably less than she had arrived in. Nero, to his full and vocal credit, was immediately and specifically displeased. He said so. He said exactly what he thought about taking the armor from someone who had just agreed to help us. He made his position clear and on the record.
Ini adalah Traxex. Traxex memandang Githyanki, menilai apa yang dikenakan Githyanki, dan sampai pada kesimpulan bahwa Githyanki tidak lagi membutuhkannya. Githyanki dibiarkan berdiri dengan jauh lebih sedikit dari yang ia datang kenakan. Nero, penuh kredit dan vokal, segera dan secara spesifik tidak senang. Ia mengatakannya. Ia bilang persis apa yang ia pikirkan soal mengambil baju besi dari seseorang yang baru saja setuju untuk bantu kami. Ia perjelas posisinya dan masukkan itu ke catatan.
It should also be noted, for the record, that some time later we encountered Shadowheart. Shadowheart was also wearing armor. Nero looked at Shadowheart's armor for a moment, and then, in a movement that the chronicle is obliged to describe as quiet and very fast, Shadowheart's armor was no longer on Shadowheart. Nero departed the encounter wearing it. He said nothing on the subject. The party said nothing on the subject either. Shadowheart was left behind shortly after, still without her armor.
Perlu juga dicatat, untuk catatan, bahwa beberapa saat kemudian kami bertemu Shadowheart. Shadowheart juga mengenakan baju besi. Nero memandang baju besi Shadowheart sejenak, dan kemudian, dalam sebuah gerakan yang kronik ini wajib gambarkan sebagai diam dan sangat cepat, baju besi Shadowheart tidak lagi berada di tubuh Shadowheart. Nero meninggalkan pertemuan itu dengan memakainya. Ia tidak berkata apa-apa soal itu. Rombongan juga tidak. Shadowheart ditinggalkan tidak lama setelah itu, masih tanpa baju besinya.
II. The Red Sword, the Transponder, and Nanang's Arrangement with the Boar
II. Pedang Merah, Transponder, dan Urusan Nanang dengan Babi Hutan
There was a general. He held a sword. The sword was red and burning and the kind of object that announces itself loudly to anyone in the room. Anaik was in the room. Anaik saw the sword, and something in the blood of Birch registered it before the rest of him had completed a thought.
Ada seorang jenderal. Ia memegang sebuah pedang. Pedang itu merah dan membara, jenis benda yang mengumumkan dirinya dengan keras kepada siapa pun di ruangan. Anaik ada di ruangan itu. Anaik melihat pedang itu, dan sesuatu dalam darah Birch mencatatnya sebelum bagian dirinya yang lain menyelesaikan satu pikiran.
His position on the transponder became simple and immediate: "Fuck the transponder. Kill him. I need the sword."
Posisinya soal transponder jadi sederhana dan langsung: "Lupakan transponder. Bunuh dia. Aku butuh pedang itu."
Nero was against this. Nero was specifically and tactically against this on the grounds that the general was attached to the sword, that the general appeared to be a significant obstacle, and that the transponder was the only way off the vessel. Sogong did not voice an opinion, which was Sogong's way of listening to all available information before deciding whether his input was necessary. Both positions were overtaken by events.
Nero menentang ini. Nero secara khusus dan taktis menentang ini dengan alasan bahwa jenderal itu melekat pada pedang, bahwa jenderal itu tampak sebagai rintangan yang signifikan, dan bahwa transponder adalah satu-satunya jalan keluar dari kapal. Sogong tidak menyuarakan pendapat, yang merupakan cara Sogong mendengarkan semua informasi yang tersedia sebelum memutuskan apakah masukannya diperlukan. Kedua posisi itu disalip oleh peristiwa.
The events were as follows: Nanang, who had been quiet throughout this exchange, had at some point during the debate moved away from the main group. He was discovered, separately, near the boar. He had applied Grease to the floor. The Grease had gone beneath himself and the boar in equal measure. Nanang was on the ground. The boar was also, to some degree, on the ground. Nanang was hitting the boar with his staff.
Peristiwanya adalah sebagai berikut: Nanang, yang diam sepanjang perdebatan itu, di suatu titik sudah menjauh dari kelompok utama. Ia ditemukan, secara terpisah, di dekat babi hutan. Ia sudah menerapkan Grease ke lantai. Grease itu masuk ke bawah dirinya sendiri dan babi hutan dalam ukuran yang sama. Nanang ada di tanah. Babi hutan itu juga, sampai batas tertentu, ada di tanah. Nanang sedang memukul babi hutan itu dengan tongkatnya.
He is a sorcerer. The staff was a choice he made. The boar had not done anything notable to deserve this. Neither circumstance appeared to enter his calculations. He was hitting the boar on a greased floor, having put himself there as well, with the focused application of someone who has found a task and committed to it entirely.
Ia adalah seorang penyihir. Tongkat itu adalah pilihan yang ia buat. Babi hutan itu tidak melakukan apa pun yang penting untuk layak mendapatkan ini. Tidak satu pun dari keadaan itu tampak masuk dalam perhitungannya. Ia memukul babi hutan di lantai yang berminyak, setelah ikut menempatkan dirinya sendiri di sana juga, dengan fokus penuh seseorang yang sudah menemukan tugas dan berkomitmen sepenuhnya padanya.
Traxex activated the transponder. We escaped. The sword remained with the general. Anaik watched it go with an expression the chronicle does not have adequate language for, but which involved the particular stillness of someone who has made a note.
Traxex mengaktifkan transponder. Kami melarikan diri. Pedang itu tetap bersama jenderal. Anaik memandangnya pergi dengan ekspresi yang tidak ada bahasa yang memadai dalam kronik ini untuk menggambarkannya, tapi yang melibatkan ketenangan khusus seseorang yang sudah membuat catatan.
III. The Landing, the Mind Flayer, and Anaik's Wisdom Score
III. Pendaratan, Penyiksa Pikiran, dan Nilai Kebijaksanaan Anaik
We fell from the sky in the way that people fall from sky vessels: all at once, without coordination, and into different places. The company assembled itself in pieces. All pieces eventually arrived except Traxex, who was located after some searching in a location that the map does not account for. She had apparently occupied a room that should not have been reachable by conventional navigation. She was retrieved from it. She offered no explanation of how she had arrived there.
Kami jatuh dari langit dengan cara orang-orang jatuh dari kapal langit: sekaligus, tanpa koordinasi, ke tempat-tempat yang berbeda. Rombongan mengumpulkan dirinya sendiri sepotong demi sepotong. Semua potongan akhirnya tiba kecuali Traxex, yang ditemukan setelah pencarian di suatu lokasi yang tidak diperhitungkan oleh peta. Ia tampaknya sudah menempati sebuah ruangan yang seharusnya tidak bisa dijangkau oleh navigasi konvensional. Ia diambil darinya. Ia tidak menawarkan penjelasan tentang bagaimana ia tiba di sana.
A mind flayer was encountered. This went, on the whole, adequately. The notable exception was Anaik, who was separated from the rest of the party at a critical moment and made contact with a creature capable of charm effects. The creature deployed one. Anaik, whose wisdom is not a statistic the party has ever pointed to with confidence, failed the check decisively. He was subsequently charmed, then defeated, then technically dead for a brief interval.
Sebuah penyiksa pikiran ditemui. Ini berjalan, secara keseluruhan, cukup memadai. Pengecualian yang penting adalah Anaik, yang terpisah dari sisa rombongan pada momen kritis dan bersentuhan dengan makhluk yang mampu melakukan efek pesona. Makhluk itu menggunakannya. Anaik, yang kebijaksanaannya bukan statistik yang pernah ditunjukkan rombongan dengan keyakinan, gagal dalam pemeriksaan itu secara tegas. Ia kemudian terpesona, lalu dikalahkan, lalu secara teknis mati untuk sementara waktu singkat.
The party laughed. This is recorded without judgment: it was funny. He was revived. He appeared to hold no grievance about the laughing, which may itself be the most alarming data point about Anaik's inner life the first session produced. Shadowheart, who had been with us until this point, was left where she stood. The party made this decision collectively and with the clean efficiency of people who had already taken her armor.
Rombongan tertawa. Ini dicatat tanpa penilaian: memang lucu. Ia dihidupkan kembali. Ia tampaknya tidak memendam keluhan soal tawa itu, yang mungkin itu sendiri merupakan data paling mengkhawatirkan tentang kehidupan batin Anaik yang dihasilkan sesi pertama. Shadowheart, yang sudah bersama kami hingga saat ini, ditinggalkan di tempat ia berdiri. Rombongan buat keputusan ini secara kolektif dan dengan efisiensi bersih dari orang-orang yang sudah mengambil baju besinya.
IV. The Town Under Siege, and the Question of Where Traxex Was
IV. Kota yang Dikepung, dan Pertanyaan di Mana Traxex Berada
Sogong found the town first. The town was under siege. He processed it by going to the front gate and looking at the problem directly. This is what Sogong does: he goes to where the problem is and stands between it and the people it intends to reach. He has not explained why. He does not appear to feel it requires explaining.
Sogong yang pertama menemukan kota itu. Kota itu sedang dikepung. Ia memprosesnya dengan pergi ke gerbang depan dan memandang masalah itu secara langsung. Inilah yang dilakukan Sogong: ia pergi ke tempat masalah berada dan berdiri di antara masalah itu dan orang-orang yang ingin ia jangkau. Ia belum menjelaskan kenapa. Ia tampaknya tidak merasa ini butuh penjelasan.
The question was immediately raised: where is Traxex?
Pertanyaan segera diajukan: di mana Traxex?
The answer was: in the ruins. Specifically, in the ruins on the other side of the town from where the party was. More specifically: she had already started a fight there. With bandits. Alone. Without mentioning to anyone that she was going, or that there were bandits, or that any of this was going to happen.
Jawabannya adalah: di reruntuhan. Lebih tepatnya, di reruntuhan di sisi lain kota dari tempat rombongan berada. Lebih tepatnya lagi: ia sudah mulai pertarungan di sana. Dengan bandit. Sendirian. Tanpa memberitahu siapa pun bahwa ia pergi, atau bahwa ada bandit, atau bahwa semua ini akan terjadi.
There were now two battles. The party was in one of them. Traxex was in the other one. Both were ongoing simultaneously. Sogong held the gate. Anaik charged something. Nero identified a shadow and moved into it. Nanang stood behind the group for a moment, then raised his hands, then a Fog Cloud occupied the battlefield.
Sekarang ada dua pertempuran. Rombongan ada di salah satunya. Traxex ada di yang lainnya. Keduanya berlangsung bersamaan. Sogong menahan gerbang. Anaik menyerbu sesuatu. Nero mengidentifikasi sebuah bayangan dan bergerak masuk ke dalamnya. Nanang berdiri di belakang kelompok sejenak, lalu mengangkat tangannya, lalu sebuah Fog Cloud menempati medan pertempuran.
The Fog Cloud occupied the entire battlefield. All of it. Every corner. Every combatant. Every ally, every enemy, and an indeterminate number of people nearby who had not been involved in any of this and were now standing in fog for reasons they had not agreed to.
Fog Cloud menempati seluruh medan pertempuran. Semuanya. Setiap sudut. Setiap pejuang. Setiap sekutu, setiap musuh, dan sejumlah tidak tentu orang-orang di sekitar yang tidak terlibat dalam semua ini dan sekarang berdiri dalam kabut dengan alasan yang tidak mereka setujui.
The party cursed at him. He said: "Shut up. This is a tactic."
Rombongan mengutuknya. Ia berkata: "Diam. Ini adalah taktik."
He did not explain the tactic. They were nearly through it. One enemy remained. The fog was still thick. The situation was almost resolved.
Ia tidak menjelaskan taktiknya. Mereka hampir melewatinya. Satu musuh tersisa. Kabut masih tebal. Situasinya hampir terselesaikan.
Traxex arrived. She brought the bandits with her. All of them. The entire company of bandits from the ruins, who had been her problem, were now running directly into the fog behind her, joining the goblins who were already in the fog, creating a single large combined engagement where there had been two separate manageable ones. Everyone yelled at her. She was moving too fast to hear it clearly.
Traxex tiba. Ia membawa para bandit bersamanya. Semua dari mereka. Seluruh rombongan bandit dari reruntuhan, yang tadinya masalahnya, sekarang berlari langsung ke dalam kabut di belakangnya, bergabung dengan goblin-goblin yang sudah ada dalam kabut, menciptakan satu pertempuran gabungan besar di mana sebelumnya ada dua pertempuran terpisah yang bisa dikelola. Semua orang berteriak padanya. Ia bergerak terlalu cepat untuk mendengarnya dengan jelas.
V. The Cat, the Longsword Backstab, and the Moment Anaik Learned Something
V. Kucing, Tikaman dari Belakang dengan Pedang Panjang, dan Momen Anaik Belajar Sesuatu
The second fight was larger and louder than the first. Anaik went forward because that is the only direction Anaik goes. Nero identified a flank and moved into it with the unhurried precision of someone who knows exactly how far away he can get before the exit closes; he disengaged and then did not leave. He withdrew to his chosen angle and remained there, invisible and present, waiting for the geometry to be correct.
Pertempuran kedua lebih besar dan lebih berisik dari yang pertama. Anaik melaju ke depan karena itu satu-satunya arah yang Anaik tuju. Nero mengidentifikasi sebuah sisi dan bergerak masuk ke dalamnya dengan presisi santai seseorang yang tahu persis seberapa jauh ia bisa pergi sebelum pintu keluar tertutup. Ia berhenti bertempur dan kemudian tidak pergi. Ia mundur ke sudut pilihannya dan tetap di sana, tak terlihat namun hadir, menunggu geometri yang tepat.
Nanang, in this same window, deployed a Mage Hand. The Mage Hand shoved an enemy. This was intentional and successful. Then Nanang cast Minor Illusion.
Nanang, dalam jendela yang sama ini, menggunakan Mage Hand. Mage Hand itu mendorong seorang musuh. Ini disengaja dan berhasil. Kemudian Nanang menggunakan Minor Illusion.
The Minor Illusion was a cat.
Minor Illusion itu adalah seekor kucing.
It appeared in the middle of the battlefield. A cat. Not a terrifying apparition, not a tactical decoy designed to misdirect enemy formations. A cat, placed with the quiet confidence of someone executing an intended action, in the center of an ongoing combat. Everyone stopped. Ally and enemy alike. Every person in the engagement looked at the cat for a moment, which was the moment Traxex needed. She was on higher ground by then, and she used the pause to do what she does cleanly and without hesitation. Whether the cat was the plan is a question the chronicle cannot answer. The plan worked. We are moving on.
Ia muncul di tengah medan pertempuran. Seekor kucing. Bukan penampakan yang menakutkan, bukan umpan taktis yang dirancang untuk mengalihkan formasi musuh. Seekor kucing, diletakkan dengan kepercayaan diri tenang seseorang yang mengeksekusi tindakan yang dimaksud, di tengah pertempuran yang sedang berlangsung. Semua orang berhenti. Sekutu dan musuh sama-sama. Setiap orang dalam pertempuran memandang kucing itu sejenak, yang merupakan momen yang dibutuhkan Traxex. Ia sudah ada di tanah yang lebih tinggi saat itu, dan ia gunakan jeda itu untuk melakukan apa yang ia lakukan dengan bersih dan tanpa ragu. Apakah kucing itu adalah rencananya, itu pertanyaan yang tidak bisa dijawab kronik ini. Rencananya berhasil. Kami melanjutkan.
The remaining moment of the fight belongs to Anaik. He had been watching Nero work: the disengage, the withdrawal to an angle, the patient waiting, the reappearance from exactly the direction the enemy was not watching. He had watched Nero do this with the focused attention of someone observing a technique he finds applicable.
Momen tersisa dari pertempuran adalah milik Anaik. Ia sudah mengamati Nero bekerja: berhenti bertarung, mundur ke sebuah sudut, menunggu dengan sabar, muncul kembali dari tepat arah yang tidak dipantau musuh. Ia mengamati Nero melakukan ini dengan perhatian terfokus seseorang yang mengamati teknik yang ia rasa bisa diterapkan.
Anaik is a Fighter. He carries a longsword. The longsword is not, by any conventional measure, a backstabbing weapon. It is a large weapon designed for direct engagement, not for the kind of shadow-work that Nero practices with a blade built for the purpose.
Anaik adalah seorang Fighter. Ia membawa pedang panjang. Pedang panjang tidak, dengan ukuran konvensional apa pun, adalah senjata untuk menikam dari belakang. Itu senjata besar yang dirancang untuk pertempuran langsung, bukan untuk jenis pekerjaan bayangan yang dipraktikkan Nero dengan bilah yang dibuat untuk tujuan itu.
Anaik disengaged. He found an angle. He came back from it and delivered a longsword backstab that connected with the full commitment of a man who understood the principle and declined to let the specifics of his equipment stand between him and the execution. The enemy did not survive. The fight concluded. Sogong walked through the gate into the city.
Anaik berhenti bertarung. Ia menemukan sebuah sudut. Ia kembali darinya dan memberikan tikaman dari belakang dengan pedang panjang yang mengenai dengan komitmen penuh seorang pria yang mengerti prinsipnya dan memilih untuk tidak biarkan spesifikasi peralatannya berdiri di antara dirinya dan eksekusinya. Musuh itu tidak selamat. Pertarungan selesai. Sogong berjalan melalui gerbang masuk ke kota.
VI. The Crypt, the Fireball, and the View from the Shadows
VI. Ruang Bawah Tanah, Bola Api, dan Pemandangan dari Balik Bayangan
We rested. This ended when Traxex found the crypt. She did not announce that she had found it. She announced that there was a fight in it. Anaik, Nero, and Nanang moved toward the sound. Anaik and Nanang went directly into the hole. Nero found a different way in.
Kami beristirahat. Ini berakhir ketika Traxex menemukan ruang bawah tanah itu. Ia tidak mengumumkan bahwa ia menemukannya. Ia mengumumkan bahwa ada pertarungan di dalamnya. Anaik, Nero, dan Nanang bergerak menuju suara itu. Anaik dan Nanang langsung masuk ke dalam lubang. Nero menemukan jalan masuk yang berbeda.
The crypt contained something substantial: a barbarian of the kind that does not negotiate and does not slow. The party was doing poorly. The space was tight, the exits were unfavorable, and the enemy was cutting through the party in the systematic way of something that has done this before.
Ruang bawah tanah itu mengandung sesuatu yang tidak main-main: seorang barbar dari jenis yang tidak bernegosiasi dan tidak melambat. Rombongan tidak dalam keadaan baik. Ruangnya sempit, jalan keluarnya tidak menguntungkan, dan musuh memotong melalui rombongan dengan cara sistematis dari sesuatu yang sudah pernah melakukan ini sebelumnya.
Traxex found a fire barrel.
Traxex menemukan sebuah tong api.
She used it. A Fireball filled the crypt with the thoroughness that Nanang's Fog Cloud had filled the battlefield. The barbarian and most of the remaining enemies were destroyed by it. So, for a moment, were most of the party members who had descended into the crypt with them. The fire did not make distinctions. The fire was very thorough.
Ia menggunakannya. Sebuah Bola Api memenuhi ruang bawah tanah itu dengan ketelitian yang sama seperti Fog Cloud Nanang memenuhi medan pertempuran. Barbar itu dan sebagian besar musuh yang tersisa dihancurkan olehnya. Begitu juga, untuk sementara, sebagian besar anggota rombongan yang sudah turun ke ruang bawah tanah bersama mereka. Api tidak membuat perbedaan. Api sangat menyeluruh.
Nero had not gone into the hole. He had entered by a different route and positioned himself somewhere the fire could not reach. When the light settled and the smoke cleared, he emerged from the shadows at the edges of the crypt and finished what remained. Cleanly. Without announcement. From exactly the angle of his choosing.
Nero tidak masuk ke dalam lubang. Ia masuk melalui rute yang berbeda dan memposisikan dirinya di suatu tempat yang tidak bisa dijangkau api. Ketika cahaya mereda dan asap bersih, ia muncul dari bayangan di tepi ruang bawah tanah dan menyelesaikan apa yang tersisa. Dengan bersih. Tanpa pengumuman. Dari tepat sudut pilihannya.
The crypt had one more thing to offer: further down, in a chamber the fight had opened access to, something very old and very patient had been sitting in the dark for a very long time. The party looked at it. They made a collective decision that this was a problem for after they had slept. They went to rest.
Ruang bawah tanah itu punya satu hal lagi untuk ditawarkan: lebih jauh ke bawah, di sebuah ruangan yang pertarungan itu buka aksesnya, sesuatu yang sangat tua dan sangat sabar sudah duduk dalam kegelapan untuk waktu yang sangat lama. Rombongan memandangnya. Mereka buat keputusan kolektif bahwa ini adalah masalah untuk setelah mereka tidur. Mereka pergi beristirahat.
Sogong's Account: Rendered Separately, as It Must Be
Penuturan Sogong: Disajikan Terpisah, Sebagaimana Mestinya
What follows is recorded apart from the main account because it took place, largely, in a different register. While the rest of the company was managing fog and bandits and fire barrels, Sogong was doing something else entirely.
Yang berikut ini dicatat terpisah dari catatan utama karena sebagian besar berlangsung dalam register yang berbeda. Sementara sisa rombongan ngurusin kabut dan bandit dan tong api, Sogong sedang melakukan hal yang sama sekali berbeda.
The tiefling refugees were inside the city walls. Sogong spoke with them. This is the first thing to record: that he went to them, listened, and was present with them in a way that did not rush toward a transaction.
Para pengungsi tiefling berada di dalam tembok kota. Sogong berbicara dengan mereka. Ini hal pertama yang perlu dicatat: bahwa ia pergi ke mereka, mendengarkan, dan hadir bersama mereka dengan cara yang tidak buru-buru menuju transaksi.
He found Kagha. He confronted her. The details of what was said are Sogong's to carry; what the chronicle records is that he stood in front of her and made his position clear, which is a thing Sogong does rarely and with precision.
Ia menemukan Kagha. Ia mengkonfrontasinya. Detail tentang apa yang dikatakan adalah milik Sogong untuk dibawa. Yang dicatat kronik adalah bahwa ia berdiri di depannya dan memperjelas posisinya, yang merupakan hal yang jarang dilakukan Sogong, dan selalu dengan presisi.
A child was killed by a snake during the confrontation. Sogong did not intervene. This is written plainly because Sogong would want it written plainly: he was there, he did not act, and afterward he went to the parents and told them what had happened. He did not soften it. He did not explain himself to anyone who asked. Whether he could have stopped it, whether the calculation he made in that moment was the correct one, whether there is a correct one, is not something this record will decide. He was there. He did not intervene. He told the parents. He moved on.
Seorang anak terbunuh oleh seekor ular selama konfrontasi itu. Sogong tidak ikut campur. Ini ditulis dengan lugas karena Sogong ingin itu ditulis dengan lugas: ia ada di sana, ia tidak bertindak, dan setelahnya ia pergi ke orang tua anak itu dan memberitahu mereka apa yang terjadi. Ia tidak memperhalusnya. Ia tidak menjelaskan dirinya kepada siapa pun yang bertanya. Apakah ia bisa menghentikannya, apakah perhitungan yang ia buat saat itu benar, apakah ada yang benar, bukan sesuatu yang akan diputuskan catatan ini. Ia ada di sana. Ia tidak ikut campur. Ia memberitahu orang tua. Ia melanjutkan.
He spoke with Zevlor. The goblin problem was named, outlined, and assigned. The party was to clear the goblin encampment. This was the task Sogong brought with him when the others came through the gate: a direction, a purpose, a clear next thing. He had spent the entire siege not fighting and had returned from it with the session's only concrete objective.
Ia berbicara dengan Zevlor. Masalah goblin diberi nama, diuraikan, dan ditugaskan. Rombongan harus membersihkan perkemahan goblin. Ini adalah tugas yang Sogong bawa bersamanya ketika yang lainnya masuk melalui gerbang: sebuah arah, sebuah tujuan, hal berikutnya yang jelas. Ia habiskan seluruh pengepungan tanpa bertarung dan kembali darinya dengan satu-satunya tujuan konkret dari sesi ini.
The party gathered at the Emerald Grove as night fell. Sogong looked out at the Grove with the particular expression of someone who has made a quiet accounting and is not satisfied with all of the entries but has accepted the ledger as it stands. He said nothing. He rarely does, at the end of things. He was already preparing for the next one.
Rombongan berkumpul di Emerald Grove ketika malam tiba. Sogong memandang ke luar ke Grove dengan ekspresi khusus seseorang yang sudah membuat perhitungan diam-diam dan tidak puas dengan semua entrinya tapi sudah terima buku besar sebagaimana adanya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia jarang melakukannya, di akhir sesuatu. Ia sudah mempersiapkan diri untuk yang berikutnya.